Jejak Sri Murtono Dihidupkan, Psk Kendal Siapkan Festival Teater Pelajar Libatkan Generasi Muda
KENDAL – Jejak pemikiran dan perjuangan tokoh teater Indonesia, R. Sri Murtono, kembali dihidupkan oleh Keluarga Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) Kabupaten Kendal melalui ziarah ke makam pendiri Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI) tersebut di Pasareyan Pringgopadmopuspito, Makam Gajahan, Jalan Kusuma Negara, Yogyakarta, Sabtu (27/6). Kegiatan itu menjadi langkah awal mempersiapkan Festival Teater Pelajar 2026 Piala Sri Murtono yang akan digelar pada Juli-September 2026.
Festival yang diselenggarakan Pelataran Sastra Kaliwungu ini mendapat dukungan dari Kemendikdasmen RI melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sebagai upaya menumbuhkan apresiasi teater di kalangan pelajar sekaligus mengenalkan kembali sosok Sri Murtono sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah teater Indonesia.
Sebelum pelaksanaan ziarah, tim yang dipimpin Mas Mahmud Alqadrian bersama Nur Iswantara terlebih dahulu melakukan penelusuran untuk memastikan letak makam Sri Murtono. Setelah berkoordinasi dengan juru kunci Makam Gajahan, Pak Harsoyo, dan membuka kompleks makam keluarga Trah Pringgopadmopuspito, batu nisan bertuliskan R. Sri Moertono akhirnya berhasil ditemukan. Penemuan tersebut menjadi penanda penting bagi rombongan PSK yang akan melaksanakan ziarah pada keesokan harinya.
Rombongan PSK kemudian bersilaturahmi di Pendapa nDalem Pakuningratan, Yogyakarta, yang dahulu merupakan Kampus ASDRAFI. Pertemuan tersebut dihadiri oleh Mbak Rina Nikandaru, Mas Mahmud Alqadrian, Nur Iswantara, serta jajaran pengurus PSK, di antaranya Bahrul Ulum A. Malik selaku Presiden PSK, M. Lukluk Atsmara Anjaina selaku Sekretaris Jenderal, Chadori Ichsan dan Bara Luqmana selaku Bendahara, dan Akhmad Sofyan Hadi.
Dalam pertemuan tersebut, PSK menyampaikan rencana penyelenggaraan Festival Teater Pelajar 2026 Piala Sri Murtono serta memohon dukungan dari Yayasan GRK Yogyakarta dan keluarga besar Alumni ASDRAFI. Selain itu, dibahas pula usulan naskah-naskah drama karya Sri Murtono yang akan dijadikan materi festival serta kemungkinan pementasan salah satu karya beliau oleh PSK. Pertemuan juga membahas usulan keterlibatan dua alumni ASDRAFI yang telah berkiprah di Jawa Tengah sebagai dewan juri festival.
Silaturahmi tersebut turut diisi dengan saling bertukar buku. Mas Mahmud menyerahkan buku Lelabuh Asmara karya Sili Suli, sementara Nur Iswantara menyerahkan beberapa karyanya, yaitu Novel Dewi Arimbi, Sejarah Teater Timur, dan Metode Pembelajaran Pantomim Indonesia. Mbak Rina Nikandaru juga menyerahkan Antologi Puisi Negeri Sontoloyo: ANGIN Bersenandung sebagai bentuk apresiasi dan penguatan jejaring literasi.
Usai pertemuan, rombongan melaksanakan ziarah ke makam Sri Murtono. Dipimpin Bahrul Ulum A. Malik sebagai imam doa, seluruh peserta memanjatkan doa untuk almarhum sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya dalam membangun dunia teater Indonesia.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke kediaman Dr. Drs. Nur Iswantara, M.Hum., dosen Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, sekaligus penulis biografi Sri Murtono: Teater Tak Pernah Usai. Di perpustakaan pribadinya, rombongan melakukan pembacaan dan seleksi naskah-naskah drama karya Sri Murtono.
Melalui diskusi dan musyawarah, dipilih empat naskah sebagai materi Festival Teater Pelajar 2026, yaitu Ida, Letkol Polri Jarot, Malam Lebaran, dan Kampus Gembira Loka yang termuat dalam buku Empat Drama Kontemporer untuk Remaja (1983). Selain itu, ditetapkan naskah Wahyu Sasongko Jati sebagai karya yang akan diproduksi dan dipentaskan oleh Pelataran Sastra Kaliwungu.
Presiden PSK, Bahrul Ulum A. Malik, menyampaikan bahwa ziarah dan silaturahmi ini bukan sekadar penghormatan kepada Sri Murtono, melainkan juga ikhtiar membangun kesinambungan sejarah teater Indonesia dengan generasi muda. "Melalui Festival Teater Pelajar 2026 Piala Sri Murtono, PSK berharap warisan pemikiran, karya, dan semangat perjuangan Sri Murtono dapat kembali dikenal oleh pelajar, guru, dan masyarakat luas," kata Bahrul, Senin (29/6/2026).
Sri Murtono dikenal sebagai salah satu pelopor teater modern Indonesia dan pendiri ASDRAFI Yogyakarta. Melalui lembaga yang didirikannya, lahir banyak seniman besar Indonesia. Dedikasinya terhadap dunia teater menjadikan namanya sebagai salah satu figur penting dalam perjalanan seni pertunjukan nasional.
Rangkaian kegiatan di Yogyakarta tersebut menjadi langkah awal dalam mempersiapkan Festival Teater Pelajar 2026 Piala Sri Murtono yang diharapkan menjadi ruang pembelajaran, apresiasi, dan regenerasi bagi tumbuhnya ekosistem teater pelajar di Indonesia. (*)